Wednesday, May 17, 2006

Prinsip

Prinsip. Saya rasa semua orang di dunia ini hidup berdasarkan prinsipnya masing-masing, prinsip yang dia anggap akan membawanya kepada kebaikan dan kebahagiaan. Berdasarkan nilai-nilai yang dia anggap baik untuk dirinya, lalu dijalani dengan sepenuh hati. Saya pun begitu, saya menjalani hidup saya dengan keyakinan tertentu, dengan prinsip hidup yang saya pegang teguh dan berharap saya tetap dapat mempertahankannya dan membuat saya berjalan ke arah kebaikan.

Namun terkadang, dalam perjalannya seringkali seseorang bertemu dengan orang yang tidak sepaham, tidak memiliki prinsip yang sama dengannya. Terkadang bertukar pikiran, saling menularkan yang baik, namun tidak jarang juga seseorang yang memaksakan kepada orang lain. Padahal suatu prinsip itu mungkin baik untuk diri sendiri belum tentu baik untuk orang lain.

Kalau sudah begitu, prinsip hidup ini sering dijadikan alasan dalam suatu pertikaian, perdebatan bahkan perceraian. Kata-kata “Sudah tidak ada kecocokan lagi” seringkali menjadi alasan perpisahan. Prinsip hidup juga seringkali menjadi alat untuk menghakimi orang lain, menyalahkan dan berbuat keras seakan berusaha mengatakan "Prinsip kamu salah! Sayalah yang benar, maka ikuti prinsip saya!". Namun bila saya pikirkan lebih jauh, tidak ada dua manusia yang benar benar sama dan serupa kan di dunia ini? Mungkin saya harus menyadari bahwa kita mahluk sosial yang merupakan bagian dari sebuah lingkaran sosial dan kehidupan, yang membutuhkan orang lain dan harus bertoleransi. Belajar menghargai dan bertoleransi terhadap prinsip orang lain, mengendurkan ikat pinggang prinsip hidup diri sendiri dan mengadaptasi dengan prinsip hidup orang lain, dengan catatan kalau memang membawa dampak baik dan mengarah ke kebaikan. Masalah lain timbul, seberapa jauh seseorang mau bertoleransi terhadap prinsip hidup orang lain? Haruskah seseorang menjalani hidup yang tidak ia yakini, demi menjaga perasaan, perdamaian dan keharmonisan dengan orang lain? Seberapa jauh seseorang mau mengendurkan prinsip hidupnya untuk menerima prinsip hidup orang lain? Seberapa jauh seseorang harus bertoleransi agar keharmonisan tetap terjaga?

Mungkin jawabannya memang perpisahan yah, kalau memang jurang pemisahnya sudah terlalu lebar. Mungkin perpisahan lebih baik, daripada suatu pihak harus merasa tertekan atas perbedaan-perbedaan yang ada dan kelelahan menjembatani perbedaan-perbedaan tersebut, daripada terjadi pertikaian yang tak berkesudahan. Saya jadi bingung, kalau prinsip hidup hanya memacu perpecahan dan perpisahan, masihkah ada gunanya memiliki dan memegang teguh prinsip hidup itu sendiri?