
Kamar kecil yang termasuk kotor dan “nggak banget” adalah kamar kecil di pasar-pasar, SPBU dan toilet umum lainnya. Contoh saya pernah ke ITC Mangga Dua dan harus ke toilet, Astagfirullah toiletnya parah bangeeet… Gak perlu masuk ke dalam cubical toilet untuk mencium mau pesing dan tak sedap lainnya. Air juga menggenang di lantai cubical toilet, tissue bertumpuk di tempat sampah dan sejuta ketidak nyamanan lainnya. Rasanya kalo gak kepaksa banget juga males. Lain halnya dengan toilet di mall-mall besar seperti Plaza Senayan, Senayan City, PIM, dll. Toilet di mall-mall tersebut terhitung layak. Definisi layak menurut saya adalah ketersediaan tissue, semprotan air, bersih, gak berbau dan kering. Bahkan Senayan City menyediakan toilet khusus untuk anak-anak dengan size toilet dan washtafel yang mengikuti ukuran tubuh mereka. Bener-bener lucu dan memadai.
Menurut saya kamar kecil dan toilet juga mencerminkan bagaimana seseorang menyambut dan memperlakukan tamunya. Ibaratnya sang tamu akan disuguhi makanan enak nan hangat atau susu dingin setengah basi. Kebersihan toilet yang disediakan untuk tamu menentukan jenis hidangannya, makanan enak atau susu dingin setengah basi.
Semalam saat saya ke toilet yang ada di airport Soekarno Hatta, saya benar-benar merasakan bagaimana rasanya disuguhi susu basi dua puluh tahun oleh pemerintah saya sendiri. Bagaimana tidak? Rasanya sejak pertama kali saya berkunjung kesana, toiletnya masih toilet yang sama, belum pernah di renovasi. Kalau dihitung secara kasar, mungkin sudah dua puluh tahun lebih toilet itu masih toilet yang sama. Padahal toilet tersebut digunakan oleh tamu-tamu dari mancanegara maupun domestic dan dengan traffic yang begitu padat, pemasukan yang (saya yakin) sangat besar, masa untuk renovasi toilet aja gak bisa! Benar-benar aneh! Kondisinya pun luar biasa mengenaskan. Pesing dan agak kotor! Uughhh… Untungnya mbak-mbak yang jaga ramah dan rajin, mau sering-sering mengepel lantainya dan gak males memberikan tissue ke orang yang masuk tapi memang karena sudah berumur, keadaan toiletnya tetap mengenaskan, kalo gak ada pelayanan begitu, sudahlah saya menyerah, benar-benar parah keadaannya… Boro-boro memikirkan ke-higienis-an MCK rumah tangga, kebersihan kota, pengurangan asap kendaraan, dll, wong memperlakukan tamu-nya aja gak bener :P
Bila saya bandingkan dengan pengalaman saya waktu ke Singapore, jelaslah perbedaan antara keduanya. Waktu saya bertandang ke IKEA Singapore, toiletnya bersiiiiiiiiiiiiih bangeeet… Warnanya putih bersih, semua serba putih, sampai saya keheranan mengapa dia memilih putih yang notabene cepat sekali kotor dan akan sangat terlihat kalau kotor. Dugaan saya, IKEA ingin secara psikologis pengunjung ikut menjaga kebersihan toiletnya dan menjaganya tetap putih bersih. Karena itu, dia memilih warna putih dan saya sebagai pengunjung juga gak tega menodai kebersihannya :P hehehehe
Mungkin hal seperti itu mustahil diterapkan di Negara tercinta ini. Untuk Negara ini, saya harus berpikir worst case alias kemungkinan terburuk. Jadi nuansa kamar kecil dan toilet harus berwarna agak kegelapan, jadi kalau kotor dan berumur dua puluh tahun gak akan terlalu ketara :P Hal pertama ya harus di renovasi (dengan dana wajar dan tidak digelembungkan) setelah itu dijaga kebersihannya bersama. Jadi setidaknya, kita bisa menyambut tamu-tamu Negara kita dengan suara ramah dan benar-benar berkata “Welcome to Indonesia… Please enjoy your visit” bukan hanya sebagai slogan. Dan tamu-tamu kita bisa benar-benar menjawab “Thank You… I think I will enjoy it” because they really mean it dan merasa disuguhi makanan nan hangat, bukan lagi susu setengah basi berumur lebih dari dua puluh tahun.
Update: Oh iya! Satu lagi, harus disediakan toilet for disable people! Hehehe :)