Thursday, September 28, 2006

Heran

Sebenernya, apa sih maunya "negara itu"? Dulu bilang bahwa Saddam Husein mengembangkan teknologi nuklir di Irak sehingga harus diperangi. Nah udah diperangi, Saddam Husein diburu, ketemu, trus ditangkep? Lalu apa kenyataannya ada nuklir disana? Gak ketemu juga kaan?? Tapi tetep, dunia diem aja. Alasan awal mengenai teknologi nuklir terlupakan, alasan kedua mau membebaskan Irak dari tekanan diktator dan absolutisme Saddam Husein, dan menjanjikan pemerintahan lebih baik di Irak, nyatanya apa? Malah perang saudara antar warga negara Irak, saling membunuh akibat saling curiga, saling menuduh bahwa satu dan lainnya merupaka sekutu atau mata-mata "negara itu". Apa pemerintahan Irak jadi lebih baik? Apa keadaan Irak jadi lebih baik? Gak juga kaaan??

Setelah itu giliran Korea Selatan atau Korea Utara yah waktu itu yang dituduh mengembangkan teknologi nuklir? Gak terbukti, akhirnya di diemin. Lalu giliran Iran yang kena tuduh, presiden Iran tenang-tenang aja nanggepinnya.

Lain halnya dengan kejadian waktu dua pesawat di hijack dan menabrak gedung kembar WTC, seluruh dunia ribut, geger, gegap gempita. Presiden "negara itu" marah-marah, Osama diburu, jadi teroris paling dicari di dunia. Aneh, bener-bener aneh. Waktu "negara itu" yang diserang, seluruh perhatian tertuju kesana, ikut mencela, melaknat dan menyumpahi pelaku penambrakan dua pewasat itu. Dibilang amoral, tak berprikemanusiaan, gak punya hati, karena sudah tega membunuh ribuan, jutaan nyawa tak berdosa. Lah, apa kabar dengan negara-negara timur tengah macam Irak, Iran, Libanon, Palestina, dll yang sehari-hari *Note: SEHARI-HARI* mendapatkan ancaman yang sama, ketakutan akan terampasnya hidup, boro-boro ngomongin kebebasan! Apa penyerang dan sekutu-sekutu "negara itu" tersebut dibilang amoral, tak berprikemanusiaan, gak punya hati, karena sudah tega membunuh ribuan, jutaan nyawa tak berdosa? Gak kan, mereka dianggap pahlawan, membebaskan rakyat menderita dari belenggu ke diktatoran pemimpinnya. Waaaksss... Aneh... Sungguh aneh.. Bukannya gue mendukung kegiatan terorisme macam WTC itu yah, gue juga GAK SETUJU dengan aksi teroris apapun! Dan harap dicatat, orang Muslim gak ada kaitannya sama teroris! :D Hehehe Cuma kalo diliat dari kejadian-kejadian itu, sebenernya yang pantes dianggep teroris tuh yang mana yah? Yang diem aja trus tiba-tiba diserang atau yang banyak menyerang orang trus tiba-tiba diserang balik dengan dahsyat?

Sudahlah, lagi puasa, ngapain juga yah mikirin yang ga penting gini. Sekali lagi, GUE TIDAK mendukung bentuk terorisme apapun. Menuntut keadilan? Kayaknya terlalu muluk kalo melihat keadaan yang begitu. Gue cuma heran, apa siih sebenernya maunya??

Me, Credit Card and Instant Lifestyle

Ehm.. Beberapa hari ini, gue ditelponin terus sama sales dari sebuah perusahaan kartu kredit. Segala macem alesan buat ngeles dari tawaran dia udah gue lakukan, mulai dari ada meeting 2 hari berturut-turut, bilang ada cuti 2 hari, sampe akhirnya gue nyerah, gue ngomong baik-baik, "Maaf untuk sekarang ini, saya belum mau buka kartu kredit". Asli gue ga enak banget pas harus ngomong kaya begitu, kesannya gue berhari-hari dah nyusahin dia, nelpon2x gue terus dengan harapan bisa ketemu, eh in the end, gue malah menolak. Mungkin dalam hati, dia udah ngomong "Kenapa gak bilang dari pertama ajaaaaaaaa!!" gitu kali yah, tapi mungkin juga gak, gue harus berbaik sangka, mbak-mbaknya baik kok :D Hehehehe

Sebenernya mendengar penawaran dia yang ini itu, gue tertarik banget, kayaknya program yang ditawarkan bagus. Gue jadi bisa dapat beberapa feature penghematan untuk pemakaian nomer HP gue karen provider jaringan HP gue yang bekerja sama dengan perusahaan kartu kredit tersebut. Meski agak aneh juga, karena beberapa feature tersebut udah ada di nomer gue, tinggal di aktifin, tanpa join ke kartu kredit dia ;) hehehe

Kenapa akhirnya gue memutuskan untuk menolak tawaran mbak-mbak baik hati itu? Jawabannya simple, dari dulu gue ga percaya sama yang namanya kartu kredit. Bukannya gimana yah, tapi kayaknya memiliki kartu kredit malah akan menyusahkan hidup gue. Bilang aja gue kuno ;) tapi gue bener-bener males punya kartu kredit. Kenapa begitu? Karena gue mengenal diri gue sendiri, karena gue tau gue ga bisa nge-rem keinginan gue untuk belanja, apalagi kalo ada penawaran Buy 1 Get 1 Free atau Discount 50% dari kartu kredit itu.. Mana Tahaaaaaaaaan... Yaps, gue kayaknya termasuk recreational shopper, which is belanja tanpa perencanaan, hanya mengikuti tipuan mata dan nafsu pribadi belaka ;) Hahahah no wonder, I often broke at the end of the month :D Tapi gue selalu mikir, mending beli barang pake kartu ATM atau uang cash, karena yang gue pake adalah "uang gue sendiri", bukan "uang orang lain yang harus gue balikin di akhir bulan" ;) Hehehe

Speaking of shopping with credit card, gue jadi inget percakapan penting gak penting gue dengan sahabat gue ini tentang perbedaan orang jaman dulu *jaman orang tua kita.red* waktu seumuran kita dan kita-kita sekarang ini. Kesimpulan percakapan gue dan sahabat gue ialah, perbedaan antara kedua generasi tersebut terletak dari kesadaran berbelanja. Kalau orang dulu, kalau gak punya duit, yah ga belanja, mereka kerja keras untuk nabung sampe akhirnya sanggup untuk beli barang yang mereka mau *meski itu hanya sepatu, baju atau tas*. Nah kalo orang jaman sekarang? Nabung belakangan deh, yang penting gaya ;) Heheheh Sehingga rela-rela aja tuh gosak-gesek kartu kreditnya sampe ratusan ribu bahkan jutaan cuma untuk baju, tas, sepatu yang lagi trend misalnya. Kayaknya tumpukan tagihan dan kepailitan yang mencekam di akhir bulan gak terlalu dipikirin. Padahal kan hutang bikin hilangnya kemerdekaan karena kita terikat suatu kewajiban lhooo... Kata Kahlil Gibran "Hidup tanpa kemerdekaan bagaikan Tubuh tanpa Jiwa" jadi kebayang deh gimana ketar-ketir, was-was di akhir bulan saat tagihan kartu kredit membludak ;D hehehe Padahal baju, tas, sepatu trendy yang dibeli mungkin gak akan tahan sampe 3 bulan saja, sedangkan tagihannya? OuoOOo.. belum tentu lunas dalam 3 bulan ;) hehe

Selain itu, perbedaan antar dua generasi terletak pada kesabarannya. Kalau jaman orang tua kita, mereka sabar nunggu 10 tahun kerja untuk mencapai lifestyle tertentu, kalau orang jaman sekarang mau-nya instant. Mereka cenderung pengen gaya hidup yang dimiliki orangtuanya yang didapat dengan 10/20 thn kerja, terjadi sekarang juga. Padahal ada aja yang baru mulai kerja atau belum kerja sama sekali :D Kayaknya orang tua kita pas seumuran kita, lebih sabar, lebih menikmati proses daripada jaman sekarang yang mau serba instant dan terjadi sekarang juga. Padahal, bayi aja belajar merangkak, jalan, baru lari kan? :D

Gue sendiri sih bukannya ga setuju 100% sama penggunaan kartu kredit atau skema kredit lainnya. Kalau kreditnya untuk beli barang-barang pokok yang mahal banget dan nabungnya kelamaan, yah kredit aja. Contohnya rumah, mobil, TV, kulkas, dll. Dengan catatan, seperlunya :D Jangan TV udah 5, masih kredit, mobil udah 7, masih kredit, yah sama aja, di akhir bulan pasti akan kebakaran jenggot juga :D Kredit yang kaya gitu-gitu mungkin masih mau gue jalanin, tapi kalo kredit untuk beli baju yang cuma akan bertahan 3 bulan, kayaknya mending gue menyisihkan sedikit uang gaji gue deh :D Hehehe Kecuali lagi, kalo gue tipe orang yang sering travelling, baik ke luar negri atau keluar kota, mungkin penggunaan kartu kredit akan terasa berguna, karena praktis dan aman, daripada bawa uang cash/ATM, ya tooh?? :D

Jadi.. Buat mbak-mbak atau mas-mas sales yang mungkin membaca ini, bukannya gue atau orang-orang yang menghindar dari penawaran kartu kredit mbak atau mas itu, sebel sama mbak/mas lhoo.. Tapi lebih ke kesadaran gue bahwa gue memang gak pinter mengatur keuangan. Jadi lebih baik gak sama sekali, daripada harus menjalani hidup laksana tubuh tanpa jiwa :) Heheh

Monday, September 25, 2006

Suluk | Recommended Blog

Kemaren, mini ngasih gue link ke suatu blog yang kata dia bagus. Ternyata pas gue buka dan baca, memang bagus, bagus banget malahan... Silahkan click disini. Selamat membaca :)

Oh by the way, this is my favorite post.

Tuesday, September 19, 2006

Forgive and Forget

Kadang, memaafkan lebih mudah untuk diucapkan daripada dilakukan. Apalagi melupakan kesalahan yang pernah dilakukan orang lain pada kita, lebih susah lagi. Padahal kalo gue lagi dalam posisi yang berbuat salah, pasti misuh-misuh minta maaf, memohon-mohon bahkan berharap keadaan kembali seperti semula, sebelum kesalahan dibuat. Tapi sayangnya hal itu gak mungkin, keadaan gak akan pernah kembali normal, semua gak akan pernah sama, walaupun kesalahan sudah dimaafkan. Kadang kalo lagi merayu minta maaf, mungkin akan keluar kata-kata "Tuhan aja Maha Pemaaf, mau memaafkan kesalahan manusia sebesar apapun. Kenapa kamu tidak mau memaafkan saya?". Memang sekali lagi saya bilang, bicara itu lebih mudah daripada melakukan.

Sayapun begitu, sampai sekarang masih saja ada kejadian-kejadian kecil di masa lalu yang gak bisa saya lupain begitu aja. Yang kalau saya tidak sengaja teringat akan kejadian-kejadian itu, hati saya terasa sakit, pengalaman pahit masa-masa lalu tersebut kadang membayang lagi. Tidak mudah memang memaafkan orang lain, tapi lebih susah lagi memaafkan diri sendiri, berdamai dengan diri sendiri, dengan masa lalu yang akan selalu jadi bagian dari diri saya. Menerima dengan lapang dada, bahwa tidak semua kejadian ada penjelasannya, ada jawabannya :(

Di lain pihak, ada saat-saat dimana saya berbuat salah, saya meminta maaf dengan tulus, dan apa yang terjadi? Orang yang saya sakiti, tidak semudah itu melupakan kesalahan saya. Mungkin sekedar ucapan "Iya, gapapa, sudah saya maafkan", mudah keluar dari mulutnya, tapi mengharap keadaan kembali ke keadaan semula sepertinya sedikit susah. Seakan penjelasan panjang lebar dan kebenaran yang keluar dari mulut saya tidak ada artinya, yang ada di pikirannya, hatinya hanyalah apa yang masuk akal bagi dirinya, dan penjelasan saya, sama sekali tidak masuk akal. Susah memang, kalau saya dalam posisi dia, mungkin akan berbuat sama.

Dan sekarang, saat Ramadhan sudah diujung pelupuk mata, saat bermaaf-maafan pun datang. Konon, orang yang tidak mau meminta maaf pada orang lain, puasanya gak afdol lhoo ;) hueheheh Jadi saya, sekali lagi memohon maaf atas kesalahan-kesalahan saya. Saya tidak sempurna, punya salah dan bila saya tidak seperti yang anda harapkan, maaf juga... :)

Jadi buat kalian-kalian yang pemaaf, apa sih resepnya mudah memaafkan kesalahan orang lain, melupakan dan berdamai dengan kejadian-kejadian di masa lalu? Saya butuh tahu resepnya... :(

Story of Andin

Andina menyematkan jepit kupu-kupu pink yang cantik di rambutnya, kemudian memeriksa make up-nya, memastika bahwa dandannya sudah sempurna dan tidak menor, Andin paling tidak suka dandanan menor, ia merasa make up natural dengan sentuhan pink ialah ciri khasnya, toh dengan begini saja, banyak orang yang mengagumi kemolekan wajahnya.

Tok tok tok... "Andiin.. Tolong buka pintunya sayang.."

"Iya ibu, tunggu sebentar yah..." Andin melirik sekilas ke cermin, lalu berjalan ke arah pintu.

"Ada apa Ibu?"

Ibu andin masuk dengan kursi roda-nya, tampak letih namun ada binar di matanya.

"Ini sayang, ibu buatkan kue untuk bos kamu sebagai tanda terima kasih ibu. Ibu benar-benar bersyukur kamu mendapatkan bos sebaik itu Andin. Entah apa yang terjadi pada ibu kemarin kalau saja sopir kantormu tidak menjemput kesini."

Andin menghela napas, mengingat kejadian kemarin. Ibu menelpon dengan suara cemas kemarin siang, ade sakit dan harus dibawa ke rumah sakit. Sementara keadaan ibu yang memakai kursi roda tidak memungkinkan untuk membawanya ke rumah sakit, dan lagi ibu tidak memiliki uang sama sekali. Andin meluncur pulang begitu mendengar kabar tersebut, diantar sopir kantor. Andinpun tidak memiliki simpanan uang, uang yang ia hasilkan hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, untung saja bosnya bersedia meminjamkan uang. Harus berterima kasih? Yah mungkin seharusnya Andin berterima kasih, kalau saja ibunya tau, apa yang Andin lakukan untuk mendapatkan uang tersebut.

"Kok malah melamun sayang? Ini kue-nya, jangan lupa dibawa. Kamu mau berangkat kerja sekarang?"

Andin tersadar dari lamunanya. "Hmm iyah bu, Andin berangkat sekarang yah bu, takut kesiangan. Andin ada meeting nanti jam 12.00 siang"

"Iyah sayang, hati-hati yah..."

"Iya ibu... Saya pergi.. Assalamualaikum.." Andin mengucapkan salam, sambil keluar kamar dan menengok ke arah adiknya yang sedang tidur.

"Andin titip ade yah bu, kalau ada apa-apa, telpon Andin saja ke HP."

"Baik Nak.. Kamu hati-hati yah.."

=======

"Tok tok tok.." Anding mengetuk pintu bernomor 451 itu dengan perlahan, 5 menit menunggu tidak ada jawaban. Andin mencoba mengetuk pintunya lagi namun tetap tidak ada jawaban. Ia meraih gagang pintu dan memutarnya, ternyata tidak dikunci. Andin berjalan masuk ke dalam, melihat serpihan kelopak-kelopak mawar merah yang menuntunnya ke arah kamar tidur. Aah.. Bunga mawar! Kutuknya dalam hati. Bukannya ia tidak menyukai hal romantis, mungkin ia akan menyukainya bila yang melakukan hal tersebut adalah kekasihnya, bukan client-nya. Ia kesal bila client-nya berlagak romantis dan puitis. Seakan menghadapi mereka yang tergila-gila dengannya tidak cukup membuatnya muak. Ia hanya ingin langsung ke urusan sebenarnya dan menyelesaikannya, agar ia bisa langsung meluncur pulang, kembali ke dalam dunia nyamannya.

Andin terus berjalan mengikuti arah kelopak mawar merah yang menuju ke arah kamar tidur, "Masih kosong" pikirnya. Lalu ia berjalan masuk ke kamar tidur, ingin merebahkan badannya sejenak. Baru beberapa detik ia merebahkan tubuhnya ke atas kasur, tiba-tiba ada suara langkah kaki dari arah kamar mandi.

"Cepat sekap diaaa!!" Teriak suara seorang perempuan.

Andin tersentak, ia kontan bangun dan duduk, namun ia terlambat, dua orang lelaki telah menyergapnya, memegang erat pergelangan tangannya. Andin berontak, tak berdaya, ia bingung apa yang sedang terjadi.

"Kamu! Dasar perempuan murahan! Kamu yang selama ini telah menggangu rumah tangga saya! Hari ini kamu janjian dengan suami saya kan disini!"

Andin menangis dalam hati, "Oh ampuni saya ya Allah...".

"Cepat kalian kerjai dia, sampai mati juga tidak apa-apa!" Perempuan itu menyalak dengan galaknya.

Andin meronta, melawan sekuat tenaga. Namun ia tidak kuasa melawan dua lelaki tersebut. Andin menangis, terus menangis, lama kelamaan kesadarannya hilang, dan iapun jatuh pingsan.

=======

Andin membuka mata, terbangun dengan perasaan nyeri di seluruh badan. Kemudian ia teringat kejadian yang baru saja menimpanya, ia menangis lagi. Andin mencoba menggerakkan badannya, melirik ke arah tepian tempat tidur, wanita itu masih ada disana.

"Ooh sudah sadar rupanya putri tidur kita! Sudah puas dirimu? Itulah ganjaran bagi yang mencoba merusak rumah tanggaku!"

Andin mencoba bangkit dari tidurnya, namun badannya terasa lemas sekali, sekujur tubuhnya nyeri, pandangannya kabur, memutih.

"Ayo kaliaan berdua, buat apa kalian bengong disitu, cepat sekap dia lagi!"

"Ampuun.. Ampuun Bu... " Andin mencoba berkata-kata, namun percuma, kepalanya pusing, badannya sakit, pandangannya makin kabur.

"Apa katamu? Ampuuun? Suami saya jarang pulang sekarang, kalaupun pulang sudah lewat subuh! Dan sekarang ini dia minta cerai! Karena apalagi kalau bukan karena kamu??"

Andin terdiam, ia tak mampu mengeluarkan kata-kata lagi, ia sudah sangat lemas. Ia teringat ibunya di rumah, teringat adiknya yang sedang sakit. Semenjak ayahnya meninggal karena kecelakaan dan ibunya cacat, Andin lah yang menjadi tulang punggung keluarga. Dirinya yang hanya tamatan SMA tak banyak dibutuhkan untuk perusahaan-perusahaan. Hingga akhirnya ia terjerembab di lembah kenistaan. Mungkin terdengar klise, tapi ia harus memberi nafkah ibunya, adiknya. Andin tertegun, menangis dalam hati.

"Ampuni aku ya Rabbi..." isaknya lemah.

Sementara kedua lelaki dan nyonya besar itu terus menyiksanya, menyayat pipinya dengan silet, menyundut kedua tangganya, Andin merintih lemah, pandangannya makin kabur. Samar ia melihat bayangan ibunya, berdiri cantik berpakaian putih, "Aaah ibu seperti bidadari surga" pikirnya. Lalu ia melihat adiknya, berlarian bermain bersama kawan-kawannya, tampak sehat dan bahagia. Andin merasakan kesadarannya makin jauh, pandangannya makin kabur, ia bahkan tidak dapat lagi merasakan tubuhnya, tak mampu menggerakan kakinya. Saat perlahan kehilangan kesadarannya, Andin teringat akan Tuhannya, akan dosa-dosanya. Andin menangis, rasanya malu menghadapMu dengan keadaan seperti ini Ya Allah. Andin berdoa dalam hati... "Ya Allah, ampunilah dosa-dosa hamba ya Allah. Hamba sesungguhnya malu memohonkan ini padaMu ya Allah, namun sekiranya Engkau berkenan, masukkanlah hamba dalam golongan orang-orang yang kau beri ampunan ya Allah.. Sesugguhnya kepadaMu-lah sebaik-baiknya tempat kembali. Amiin.."

Andin semakin kehilangan kesadarannya, samar ia mendengar lantunan lagu...

"ini hidup wanita si kupu-kupu malam
bekerja bertaruh seluruh jiwa raga
bibir senyum kata halus merayu memanja
kepada setiap mereka yg datang

dosakah yg dia kerjakan
sucikah mereka yg datang
kadang dia tersenyum dalam tangis
kadang dia menangis di dalam senyuman

oh apa yg terjadi, terjadilah
yg dia tahu Tuhan penyayang umatnya
oh apa yg terjadi, terjadilah
yg dia tahu hanyalah menyambung nyawa"

Andin yakin akan cintanya pada Tuhannya... pandangan dan kesadarannya makin kabur... "La illahailallah, Muhammad durrosulullah". Andin menutup matanya, larut dalam kehampaan bersinar terang di hadapannya. Ia terlarut dalam tidur abadinya.

* Note :
- Inspired by this song
- Cerita dan nama adalah hanya rekayasa, bila ada kemiripan, maafkan :)