Friday, January 27, 2006

Jadi Diri Sendiri

Seringkali ada orang yang mengatakan pada kita atau kita yang mengatakan pada diri kita sendiri kata-kata diatas. Jadilah diri sendiri, semua orang punya kekurangan dan kelebihannya masing-masing, jangan berusaha menjadi orang lain. Begitulah kira-kira, kata-kata yang sering diucapkan orang lain atau diri sendiri, saat kita merasa “kecil”, tidak bisa apa-apa dan membandingkan diri dengan orang lain.

Sayapun begitu. Saat saya membaca blog-blog ini (hormon’s, sandRaOnly, dll), saya merasa kecil. Isi blog mereka begitu cerdas, menarik, mengupas topik-topik terkini dari keadaan politik, ekonomi, sosial dan issue-issue lain yang tengah hangat di masyarakat. Saya langsung menebak bahwa mereka pastilah orang-orang cerdas yang mampu menuliskan pendapat dan pikirannya dalam untaian kata yang enak dibaca. Saya kagum. Ketika saya mencoba dan ingin sekali terlihat pandai dengan menulis suatu issue sosial atau politik yang tengah hangat di masyarakat, saya malahan terlihat bodoh, kosong dan pointless. Saya menghapusnya, mengurungkan niat, merasa itu bukan bidang saya.

Begitu pula pada masa-masa awal saya memutuskan untuk membuat blog. Teman saya ini yang menginspirasikan. Dan lagi-lagi setelah membaca blog dari ninit, okke, adhitya, kamarcewek, dll saya juga merasa ingin seperti mereka. Ingin dapat menulis suatu cerita menarik. Melihat suatu hal dari sisi lain dan menuangkannya dalam sebuah kalimat lucu dan menarik. Namun seperti halnya saat ini, saat itupun saya gagal. Cerita yang saya buat tidak lucu dan sama sekali tidak menarik. Saya menghapusnya.

Kalau dilihat dari latar belakang penulis cerdas dan cerita lucu itu, mereka memiliki background pendidikan ataupun pekerjaan yang membuat kemampuan menulis mereka terasah dan kemampuan berpikir mereka terpacu untuk lebih kritis. Si penulis cerdas contohnya, ia memiliki background pendidikan sebagai mahasiswi komunikasi dan bekerja sebaga news content writer, pantaslah ia cerdas dan sangat mengetahui tentang issue politik, sosial, dll karena memang bidangnya seperti itu. Ninit Yunita pun seperti itu, ia seorang penulis, pantaslah ceritanya lucu dan menarik.

Kalau saya pikir bidang saya, saya seorang lulusan IT yang bekerja di bidang IT. Haruskah saya menulis tentang IT? Tentang teknologi terakhir? Tentang intelPentium, tentang bugs di windows dan patch-nya, tentang Java Programming Language dan IDE-nya? Tentang eclipse, IntelliJ, Bea WebLogic dan Drools ? Rasanya membosankan dan masih ada sejuta orang yang lebih jago dan pantas untuk menulis tentang issue-issue tersebut.

Aah.. Jadilah diri sendiri. Itulah kata-kata yang dapat saya katakan untuk menghibur diri saya sendiri. Namun kemudian saya berpikir, siapakah diri saya? Useless :( Padahal sungguh, saya tidak ingin menjadikan blog ini sebagai online diary picisan yang isinya sampah dan tidak menarik. Seperti judul blog saya, it's just a Joke. Saya menulis blog? a Joke, a not funny joke :(

Thursday, January 26, 2006

Barber Shop

Buat lo yang cowok yang sering cukur di Barber Shop atau buat cewek yang sering nemenin cowoknya ke Barber Shop, pasti udah familiar dengan ciri khas Barber Shop. Apakah itu? Itu adalah lampu panjang muter-muter yang berwarna merah putih biru. Pernah kepikiran ga itu warna negara apa dan kira-kira asalnya darimana? Gue juga gak tau sih tadinya, tapi beberapa hari lalu (lagi-lagi) gue dengerin GMHR di Hard Rock FM dan terungkaplah misteri itu.

Jadi begini ceritanya, ternyata warna merah putih biru itu berasal dari lambang negara Perancis. Sebenernya sih, menurut wikipedia, barber shop tuh awalnya bukan berasal dari negara perancis tapi entah kenapa warna itu jadi identik dengan negara perancis.

Yang menarik lainnya adalah bahwa dulunya barber shop itu tempat multi fungsi, selain untuk mencukur rambut atau jenggot, barber shop juga merupakan tempat dokter gigi dan bedah. Aneh kan? Sampai akhirnya berkembang, jadilah fungsi barber shop dipisah-pisah. Barber shop menjadi khusus untuk mencukur rambut, kumis, jenggot, dll. Dan untuk membedakannya, kalau dokter bedah dan gigi pake jubah putih panjang, sedangkan barber shop pake jubah putih yang lebih pendek [entah ini bener atau gak yah =D ]. Lucu yah kalo dipikir-pikir, tukang cukur bisa bedah orang juga.

Warna merah, putih dan biru pada lambang barber shop juga memiliki arti tertentu. Merah melambangkan darah, biru itu urat nadi dan putih adalah perban pembalut. Sesuai dengan fungsi awal barber shop yang juga membedah orang, jadi warna tersebut cukup representative =D hehehe

Well, that’s it, an interesting knowledge about barber shop. You should check it yourself =p

Wednesday, January 25, 2006

Raib?

Gue bingung, dari kemaren mau liat hasil postingan blog tapi error, yang keluar cuma tag tag html. Karena gue baca di blogger-nya kalo kemaren scheduled maintenance, jadi gue agak tenang. Tapi tadi pagi tampilan blog gue masih ancur sementara blog temen gue dan yang lainnya baik-baik aja dan ga ada tulisan scheduled maintenance di blogger. Panik. Sebel. Ternyata sebagian script template blog gue ilang, bingung. Kok bisa yah? Arrghhh! Kesel.

Buat yang belum pernah mengalami, back up deh template blog lo, sebelum harus re-design. Kesel =(

Tuesday, January 24, 2006

Infinite Dreams

Where are you?
Where have you been hiding?
I’ve searched the world all over
I’ve seen pictures of people I didn’t know
Just to catch a glimpse of your existence

Nope…
I didn’t find you there
Among those strangers I have met
Nor the friends and relatives I accidentally passed
Nothing leads me to you…

So where exactly are you?
Do you really exist?
Are you for real?
Or just a manifestation of my insane thoughts
And my un-real imagination
Of my infinite and endless dreams


Monday, January 23, 2006

Falling in Love is Easy

Chika dan Adhist, duduk di sofa empuk sebuah coffee shop terkenal di Jakarta. Mereka janjian ketemuan di coffee shop tersebut setiap rabu, sepulang kantor. Hari ini Chika memesan Caramel Macchiato kesukaannya, seperti biasa. Sementara Adhist memilih Hot Chocolate. Hujan masih mengguyur Jakarta dengan derasnya. Mereka memilih duduk agak di sudut, dekat kaca yang menghadap keluar dan satu line of sight dengan pintu masuk coffee shop tersebut, spot favorit Adhist. Sambil menyeruput minuman panasnya, Adhist memulai kebiasaannya, memperhatikan orang-orang sekitar dan menebak profesi serta kehidupannya kira-kira seperti apa. Ia sangat menyukai hobynya yang satu itu, menebak kehidupan orang dan mengarang masa depan mreka, sementara Chika heran apa asiknya, ia pikir hanya membuang waktu.

“Chik, liat deh pasangan yang baru masuk itu.”

“Yaps.. Emang kenapa?”

“Menurut lo, apa bedanya sama pasangan yang di belakangnya tuh, yang baru mau masuk juga?”

“Bo’ penting yah? Hmm.. Pasangan pertama cowoknya ganteng sementara yang kedua cowoknya biasa aja.”

“Duuh.. Asal banget sih lo… Serius dikit dong… Perhatiin deeh…”

“Mending lo langsung kasih tau gue, daripada gue harus nebak-nebak di sore syahdu begini. Dingin bo’ otak gue agak lelet kalo dingin…” Chika menjawab dengan asal.

“Arrgghh.. Masa lo gat au sih bedanya, it’s that obvious.” Adhist menjawab. Kemudian melanjutkan kata-katanya.

“Pasangan pertama tuh pasti udah lama pacarannya, kalo pasangan kedua pasti baru deh.” Adhist menjawab dengan yakin.

“Kenapa lo bisa berkesimpulan seperti itu?” Chika mulai tertarik.

“Soalnya pasangan pertama, cowoknya bukain pintu, ngasih dompet ke ceweknya trus bilang ‘Yang biasa yah sayang’, trus dia duduk sambil baca-baca majalah. Sementara pasangan kedua, cowoknya bukain pintu, ikut ngantri dan daritadi mereka berdua ga berhenti senyum-senyum, salting berdua gitu.”

“Duh dhist.. Teori lo tuh ga berdasar banget deh. Kali aja tuh cowok ambeyen, ga bisa diri lama-lama” Chika ilfil mendengar teori tak berdasar Adhist.

“Chika, kalo ambeyen itu malah ga bisa duduk lama-lama. Duh ngapain gue nanggepin kata-kata lo barusan yah…” Adhist menggerutu.

“Hahahahaha karena emang kata-kata gue lebih masuk akal daripada teori lo..”

“Bener kok Chik, kalo pas PDKT atau pertama-pertama pacaran, lo pasti diladenin sama cowok lo. Lama-lama, lo yang ngeladenin dia… Hhahahaah”

“Hahahahahahaha… Bisa aja lo… Tapi kalo dipikir-pikir, bener juga siih…” Chika mengakui teori asal Adhist kali ini.

Speaking of pacaran lama. Kemaren tuh gue sama Febby sempet gosipin lo gitu bo’. Menurut lo, orang pacaran lama karena cinta atau terbiasa?”

“Pertanyaan ga penting lagi, sekarang gue tanya, emang ada yah pacaran ga cinta? Lagipula apa bedanya sih?”

“Ada lah. Ada orang yang cinta karena terbiasa dan terbiasa karena cinta. Contohnya, lo pernah denger cinta lokasi kan? Nah itu salah satu contoh cinta karena terbiasa. Sering ketemu, biasa kerja bareng, akhirnya cinta deh. Kalo terbiasa karena cinta, yah dia terbiasa ada tuh orang di hidupnya karena dia cinta sama orang itu dan mau menjadikan orang itu bagian dari hidupnya… Begituuu…”

“Ah apa bedanya sih dhist.. Pacaran yah cinta, that simple…Kaya artis aja sih, cinta lokasi…”

“Duh bo’ belum tentu cinta lokasi tuh ga survive. Sekarang gini deh, lo pacaran sama Bejo dah 4 tahun, lo cinta atau terbiasa? Ada juga lho yang bertahan padahal ga sadar udah ga cinta, hanya karena terbiasa aja ada tuh orang di hidupnya.”

“Oh itu sih gampang. Karena Bejo sering Bengong Jorok dan mengajari gue gimana caranya Bengong Jorok bareng…” Chika menjawab sambil terbahak.

“Lo tuh yaah, ngeledek gue banget.. Serius dong Chik..”

I’ll take care of you, don’t be sad and don’t be blue. Just count on me, your whole life through and I’ll take care of you. Ponsel Chika berbunyi nyaring.

“Bentar yah dhist, Bejo nelfon nih.” Chika mengangkat telpon, berbicara sebentar kemudian menyudahinya.

“Kenapa? Bejo nyariin lo yah?”

“Iyah, biasa tanya dimana, mau pulang jam berapa.”

“Nah itu kan, lo terbiasa. Menurut lo dia nelfon lo karena terbiasa atau memang bener-bener sayang dan mengkhawatirkan lo, pengen tau keadaan lo dan memastikan lo baik-baik aja ?”

“Duh gak tau yah kalo dia, gue sih sayang sama dia. Dan gue terbiasa ada dia di hidup gue, mudah-mudahan untuk waktu yang lamaaa sekali.” Chika menjawab, mencoba terdengar meyakinkan, walaupun di dalam hatinya bertanya-tanya juga.

“Lo gitu, tapi dia?”

“Udah ah dhist, gue yakin dia sayang juga sama gue. Dan gue sayang banget sama dia. Gue rasa hubungan kita berdasarkan sayang, bukan terbiasa.” Chika menjawab, mencoba mengakhiri sesi pertanyaan yang dimulai oleh Adhist.

“Hmm.. You sound unsure, do you realize that?” Adhist akhirnya mengalah, mencoba menerima penjelasan Chika.

“Dhist, jatuh cinta sama orang tuh gampang tapi menjaga cinta sama seseorang itu yang lebih susah.”

Kemudian mereka berdua terdiam. Menocba menikmati kopi mereka masing-masing. Tiba-tiba Chika mengenggam tangan Adhist erat, matanya terbelalak.

“Dhist, cowok yang barusan masuk ganteng banget, tipe gue banget. Duuh.. Semoga dia duduk deket kita.”

“Hahahahaha gatel banget sih lo, baru aja lo bilang lo sayang banget sama Bejo, sekarang tiba-tiba lo bilang cowo itu tipe lo banget”

“Hehehehehehe” Chika terkekeh, dia membalas perkataan sahabatnya itu sambil mengerlingkan matanya dengan nakal.

Falling in love is easy

but staying in Love is another thing.”